Thursday, July 23, 2009

Menyerang Adalah Pertahanan Paling Baik

"Lalu Yosua dengan seluruh tentaranya mendatangi mereka dengan tiba-tiba dekat mata air Merom, dan menyerbu mereka. Dan Tuhan menyerahkan mereka kepada orang Israel… sehingga tidak seorangpun dari mereka yang dibiarkan lolos."

(Yosua 11:7-8)

Ayat ini menunjukan bahwa Yosua dan bangsa Israel adalah pejuang-pejuang aktif dan bukan pengamat yang berdiam diri. Mereka bergegas menghampiri musuh daripada menunggu musuh datang kepada mereka. Bangsa Israel berkemah di Gilgal, tetapi tidak pernah bertempur di sana, karena Yosua selalu mengambil inisiatif dan menghampiri musuh untuk mengusir mereka.

Kita mempunyai kecenderungan untuk diam dalam kepuasan, merasa cukup dengan tingkat kerohanian kita. Kita tidak suka susah-susah atau berjuang. Kita lebih suka datang ke sebuah panggung ketika segalanya tampak nyaman dan kita diam di sana. Kecenderungan ini tampak pada suku Ruben, Gad dan separuh suku Manasye di Bilangan 32 - Mereka telah menerima warisan mereka di timur Yordan dan meminta agar mereka tidak menyeberang melewati Yordan bersama dengan saudara-saudara mereka. Merasakan kehidupan yang seimbang dan nyaman itu memang nikmat.

Namun mentalitas seperti ini sangat pasif dan tidak berorientasi pada tujuan. Mengetahui bahwa Allah dapat memberikan kita kemenangan saja tidak cukup - kita harus mengambil tindakan dan mengalahkan dosa-dosa dan kebiasaan jahat kita dengan menaati Allah. Kita tidak hanya dengan pasif menunggu cobaan datang dan baru membangun tembok pertahanan, membiarkan segalanya pada pengendalian diri kita sendiri. Kita harus dengan aktif mencari kebiasaan jahat kita dan mencerabutnya hingga ke akar-akar, sembari mengetahui bahwa bila kita berperang, Allah akan mengalahkan mereka untuk kita. Apakah kita mempunyai kebiasaan jahat yang membelenggu kita? Jangan hanya duduk diam saja dan berharap kita dapat mengendalikannya di kesempatan berikutnya - lakukanlah sesuatu!

Dan bila kita kita telah mengambil tindakan dan masih jatuh? Evaluasilah kembali, bertobat, dan bertanya kembali kepada Allah, seperti yang dilakukan Yosua dan bangsa Israel ketika mereka gagal dalam usaha mereka pertama kali menyerang kota Ai (Yosua 7). Lalu, ambil tindakan dan memulai ronde baru dalam pertempuran melawan dosa!

Renungan:
Kelemahan apakah yang Anda punya, yang harus Anda lawan dengan pendekatan proaktif?
Langkah-langkah nyata apa saja yang dapat Anda ambil untuk mengalahkan kelemahan-kelemahan ini?

Sunday, July 12, 2009

"Apakah yang Dikehendaki Tuhan darimu?"

"Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan daripadamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadpaan Allahmu?"
Mikha 6:8


Banyak orang mungkin bertanya-tanya mengapa Allah tidak lagi memimpin kita seperti dahulu Ia memimpin bangsa Israel di masa Perjanjian Lama. Di masa itu, bila mereka memohon petunjuk Allah, Ia akan mengungkapkan kehendak-Nya entah secara langsung, atau melalui nabi-nabi. Masihkah Ia memimpin kita?

Tentu saja iya. Di masa ini, Allah secara langsung memimpin kita melalui Firman-Nya yang tertera di dalam Alkitab. Kita tinggal membacanya.

Dan apakah yang dikehendaki Allah dari kita? Jawaban yang diberikan atas pertanyaan ini adalah "berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu" (Mik. 6:8). Ayat ini dapat digunakan sebagai sebuah semboyan bagi kehidupan kita sebagai pengikut Kristus, memberikan arah bagaimana menangani berbagai macam keadaan di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ketika kita berhubungan dengan orang lain dalam masyarakat atau di gereja, apakah kita memikirkan apa yang kita lakukan itu adil? Atau apakah kita seringkali melakukan hal-hal dengan cara yang egois? Bila kita menemukan seseorang yang membutuhkan pertolongan, apakah dengan sedia kita menunjukkan kemurahan kepadanya atau kita menahan diri dan mengabaikannya?

Kita menghadapi berbagai macam hal dan masalah di dalam kehidupan. Kadang-kadang kita tidak tahu bagaimana caranya menghadapi keadaan tertentu. Yang dapat kita lakukan adalah bertanya: "Apakah yang Allah ingin aku lakukan dalam keadaan seperti ini?" Haruskah kita mengikuti apa yang Allah inginkan dari kita atau apakah kita mengikuti saja kehendak hati kita? Apakah kita cukup rendah hati untuk tunduk kepada kehendak Allah?

Sebagai orang Kristen, mengetahui kehendak Allah bagi kita haruslah menjadi tujuan. Melakukan hal-hal yang diinginkan Allah dari kita akan menyenangkan-Nya, dan hati kita akan bersukacita dan dipenuhi dengan kedamaian. Bertindaklah dengan adil, cintailah kemurahan hati, dan berjalan dengan rendah hati bersama Tuhan kita. Mari kita senantiasa mengingat firman ini dan menggunakannya untuk menuntun kita dalam kehidupan, karena itu akan menjadi lampu bagi kaki dan terang bagi jalan kita. 

Renungan:
Apakah prinsip lain yang penting, yang Anda terapkan dalam kehidupan Anda agar dapat menolong Anda mengerti apa kehendak Allah bagi Anda?